SELAMAT TINGGAL INDONESIA

27 Apr 2015

BRENGSEK itu adalah saat gue “digampar” sama orang. 

Bukan cuma “digampar”,bukan sakit dari “gamparan”nya, tapi sakit dan malu bahwa emang gw emang salah. 

Beberapa saat yang lalu, gue ada di satu event barengan dengan beberapa veteran perang kemerdekaan.

Membanggakan bisa duduk bareng mereka. 

Sejuta cerita udah gue siapin di kepala gue buat gue ceritain,buat bahan ngajak mereka ngobrol ,dan mungkin sedikit memberi tahu mereka bahwa masih ada loh anak2 muda yang nerusin perjuangan. 
Bahwa di kota ini,ada anak muda mbela daerahnya. Kota lain jg gerakin anak muda nya buat kota itu, gimana di jakarta banyak gerakan mbela saudara se daerahnya dsb dll dll lah pokoknya. 

And there I was, duduk bareng mereka. 
mereka yang kalau tidak berjuang, gue ga akan pernah punya kebebasan seperti sekarang. Berbicara. Berkarya. Apapun. 

Dan mulailah pembicaraan yang sudah gw siapin,antara gw dan para veteran2 itu.

 

Mel           : Pak, cerita dong saat berjuang dulu, apakah Bapak takut ?

Veteran    : Wah takut mah pasti ada, tapi kalau gak, siapa yang bela Negara ?

Mel           : Saat itu Bapak sudah berkeluarga ? Gimana kalau orang menyerang keluarga Bapak ?

Veteran    : Sudah, punya satu istri dan satu anak ..

Mel           : Tapi anak istri, Bapak tinggal di rumah kan ? Gak ikut Bapak perang ke mana-mana ?

Veteran    : Rumah yang mana, rumah saya habis, hangus .

Mel           : YaTuhan … terbakar saat perang, Pak ?

Veteran    : Saat perang, tapi saya sendiri yang bakar . Bukan musuh.

Mel           : Lah kenapa Pak ?

Veteran    : Lha daripada rumah dipakai buat rumah musuh, mending rumah sama makanan saya dipake jadi markas sama musuh ya mending saya bakar . Mending gak punya apa apa daripada saya jadi fasilitas mereka..

Mel           : Baiklah … yang penting hari ini sudah selamat ya Pak . Gimaan akhirnya keluarga Bapak bisa survive saat itu tanpa rumah tanpa makanan?

Veteran    : Ya kita emang gak punya tapi ada aja yang kasih tempat, kasih makanan, cukup lah kita gak kelaperan . Selalu ada aja yang ngasih mah …

Mel           : Kalau boleh tau, apakah teman Bapak yang menolong Bapak dulu masih ada kah sekarang ini ?

Veteran    : Waduh , sudah lama sekali tidak pernah bertemu

Mel           : Boleh tau nama Bapak yang menolong keluarga Bapak ? Dan mungkin dari kesatuan atau daerah mana berasalnya ?

Veteran    : Waduh Mba kalau ini pertanyaannya mah saya gak tau.

Mel           : Maksudnya Pak ?

Veteran    : Lha kita paling tau nama panggilan satu sama lain aja , tapi dia dari mana, daerah mana, orang apa, kita gak tau . Wong setiap ada apa di manapun ya kita bergerak, gak ada waktu nanya kamu dari mana, atau ini daerah mana yang musti dibela .

Kita mah ngertinya buat INDONESIA aja gitu … gak ada bedanya, gak penting kita nanya nanya mah dulu …

 

PLAK        !!!!!!!!!

 

Asli gue ketampar disitu .

 

Di saat setengah mati gue berusaha membuat sesama orang Jawa sendiri peduli akan tanahnya yang mau dijadiin pabrik semen, di saat Bali mati-matian mencari pendukung , di saat perjuangan2 membutuhkan tenaga pemuda pemudi untuk berjuang ,di saat gue mencari inspirasi di pembicaraan ini,

 

Ternyata yang gue dapet ya sesimple itu .

 

No

Gue TIDAK BICARA tentang PRESIDEN ,ini bukan ajang untuk “makanya milih A” , sukurin enakan waktu “ B “ kan dll .. BUKAN .

Gue bicara mengenai rakyat , kita .

 

Karena siapapun pemimpinnya akan nada plus minus. TIDAK SATU PUN presiden menjabat tanpa celaan . Dan saat diganti , diikutin, dikasih yang baru, toh kita akan nyari kesalahan mereka lagi .

Hari ini gue mau bicara soal KITA .

 

Negara ini bUKAN TUGAS PEJABAT tapi tugas KITA .

Kalau kita pun selalu mencela dan mencela dan mencela dan gak buat apa apa yang nyata, lalu di mana bedanya kita dengan yang kita cela ?

 

Bertahun tahun gue bekerja atas nama hak azasi .

Hingga akhirnya berujung pada mewakili buruh Indonesia di beberapa Negara di dunia.

 

Why ? Simpel. Karna gue buruh dan gue gak ada bedanya dengan mereka . Saat orang mencela “ah lo tau apa soal buruh?”

 

Well…. Taukah lo, siapapun lo, pegawai bank , penyiar radio sekalipun, selama lo ada kontrak, lo punya bos dan digaji , maka lo adalah buruh . titik .

 

Perjalanan menyenangkan yang membawa gue ke berbagai wajah Indonesia .

Kota ke kota, bahkan Negara ke Negara gue bertemu dan bertatap muka dengan para buruh migran .

Simpel .

Mereka berangkat untuk bekerja , karena dalam Negara mereka sendiri tidak ada lapangan pekerjaan .

 

Apa yang akhirnya terjadi atau dilakukan di tempat mereka bekerja ? Bukan urusan gue .

Karena apapun itu tidak merubah mereka menjadi musuh gue .

Karena apapun itu, gue masih juga seorang manusia.

Karena apapun itu, gue gak brani menghakimi karena gue pun masih buat salah setiap hari.

 

Karena apapun itu , cuma TUHAN dan mereka yang tau apa yang ada dalam hati masing masing manusia .

 

Mulai lah pekerjaan itu dimulai ….

Satu persatu kasus mulai bisa kita jalanin bareng bareng sama sebagain anak muda yang masih punya semangat di berbagai sosmed .

 

Mulai dari teguran menteri, penyelamatan satwa, sampai terakhir “bebasnya” seorang terhukum mati, SATINAH yang tinggal menanti pulang saja .

 

BERHASIL KITA JALANIN .

 

Sayangnya,

Hari hari itu harus selesai .

 

DULU kita menjadi celaan bagi Negara lain saat Negara tetangga seenaknya menembaki pekerja kita dimalam hari atas dasar iseng, dan satupun sampai hari ini kasus nya TIDAK ADA yang kita bela atau proses.

 

Sayangnya sampai hari ini , celaan tersebut harus gue anggap benar .Kita tidak tegas . Dalam membela rakyat sendiri .

 

Yes kita marah pada Tony Abbott ( Australia ) karena menyebut kasus Aceh dalam bicaranya.

Tapi di sisi lain, buat gue ,ITULAH YANG NAMANYA SAUDARA, BAPAK ,NEGARA .

Yang akan membela “keluarganya” dengan segala cara . Sampai titik terakhir .

 

Saat adik atau kakak lo salah, atau bapak ibu lo salah, apa mereka berhenti jadi keluarga ? Engga kan ?

 

Dan ini bukan soal nantinya orang tidak dihukum. Namanya salah ya HARUS dihukum . tapi bukan berarti mereka tidak pantas dibela, atau dibiarkan lah untuk dihukum di Negara mereka .

 

Hukuman adalah hal WAJIB.

Tapi menghukum mati seseorang, APA BEDANYA DENGAN PEMBUNUH ?

Sudah tidak percayakah kita pada TUHAN yang akan menghukum orang yang bersalah ?

 

Kalau kita tidak mau memberi maaf , ( dengan tetap memberi hukuman), lalu apa hak kita meminta maaf pada Tuhan setiap hari ?

 

 

Gue percaya bahwa orang yang bersalah HARUS DIHUKUM SEBERAT-BERATNYA . Menjalani masa hukuman .

 

Tapi sekali lagi LAKUKAN LAH DENGAN ADIL .

 

Adilkah kita mewajibkan hukuman mati , tapi di sisi lain , koruptor mendapatkan keringanan hukuman ?

Jadi mencuri dan menipu yang menyebabkan kemiskinan bahkan kematian itu , lebih kecil dosanya dibanding menjual narkoba ?

 

Kalau ada yang tau dimana buku hitung hitungannya mohon gue di-share karena gue ketinggalan .

 

Beberapa waktu lalu gue mengadakan kunjungan ke Malaysia dan menyempatkan diri berkunjung ke sahabat sahabat buruh migran disana .

 

Mereka yang menabung setengah mati untuk bekerja, atau membela diri mereka saat sedang diperkosa majikannya, mereka yang setahun belum digaji dan nyaris seminggu tidak dikasih makan , dan lainnya, dan akhirnya membela diri mereka dan sekarang ada di jajaran hukuman mati di Negara lain .

 

Dulu, gue bisa bilang “ gue akan berjuang “

 

Hari ini, peluru gue di tangan ini habis .

 

Di mana gue bisa minta pengampunan saat Negara kita sendiri sudah mensahkan hukuman mati ?

 

Sekedar info saja , saudara kita yang menanti untuk menghitung mundur nyawanya ada sebanyak 59 orang yang sudah vonis tetap ( 45 Malaysia, 5 Arab, 1 Qatar , 9 Cina )

 

Dan 219 yang sedang dalam proses hukum …

 

Belum termasuk 92 kasus baru ( 90 Malaysia, 1 Qatar, 1 Singapura ).

 

Mereka bukan anak pejabat .

Mereka bukan orang yang bisa berdagang narkoba dan tertangkap dan kemudian ada di posisi barter tahanan , dengan sesama kurir narkoba antar Negara .

 

Apakah yang kita cari ?

Respect ?

 

Gue yakin kita akan bisa mendapatkan respect saat kita bisa melakukan hal yang benar .

 

Kita bisa dapatkan respect saat kita membela keluarga kita sendiri di Negara lain . Sekali lagi bUKAN meniadakan hukuman,, tapi MINIMAL menyapa , bukan sekedar “ mengirimkan surat” .

 

Kita bisa mendapatkan respect saat kita bisa menjadi Negara yang tegas . Menindak siapapun yang menyakiti warganya . di manapun .

 

Apakah yang dilakukan ini memberi solusi ? Nope .

Saat masih bisa seorang “penjahat’ menjadi pejabat berwenang di Negara ini, gue tidak melihat yang namanya ketegasan .

 

Umumnya hukum di Negara ini dibuat demi kepentingan sepihak .

Saat ada sebuah badan memberikan angka “karangan” tentang jumlah orang yang mati karena narkoba, akan nada agenda di belakangnya .

 

Saat orang pada mati karena oplosan di sana sini, bukannya memperketat pembelian minuman beralkohol ( minimal 18 th dengan ID dll) , malah ditiadakan sama sekali . Padahal jelas kita hidup di Negara yang bahkan punya kebiasaan minum minuman alkohol tradisional dari acara kelahiran sampai kematian . Dengan semua dibatasi sekarang , apakah itu memberikan solusi ? Pastinya enggak .

Semua hanya sebatas keinginan menyaingi orang lalin yang sudah membuat peraturan dan keinginan untuk masuk dalam jajaran pemerintahan , jadi harus aja buat satu undang undang .

 

 

Saat kita menghukum orang karena mencuri ubi atau kentang atau sepotong kayu untuk hidup, tapi kemudian para koruptor disahkan mendapat remisi dll , apakah ini memperbaiki situasi ?

 

 

Saat kita memaksakan hukuman mati , padahal kita bukan Tuhan, kita Negara beragama, dan demi segelintir orang, akhirnya kita harus kehilangan ratusan saudara kita di luar sana, apakah itu setimpal ?

 

Menurut gue, enggak .

 

Orang bilang, dihukum mati di Negara kita itu masih “lebih enak” , ditembak , selesai .

 

Tau kah kalau saudara saudara kita di luar sana ,saat dihukum mati, akan dipotong lehernya ? Atau ada istilah “gantung diri atur sendiri” dimana belum tentu tali yang digunakan pas penempatannya sehinggal kadang membutuhkan sekitar 20 menit penderitaan baru akan meninggal ?

 

Taukah bahwa banyak Negara lain sudah meniadakan hukuman mati , karena mereka sudah kekurangan algojo ? Karena sudah hampir tidak ada yang mau melakukan pekerjaan kotor ini ?

 

Karena saat mereka mengambil nyawa orang lain, mereka sama saja seperti orang yang mereka hukum mati karena mengambil nyawa orang lain ?

 

Haruskah kita membelah diri , … bukankah ini saat nya kita balik ke pemikiran para pejuang kita jaman dulu ?

 

Siapapun lo, selama lo adalah penghuni rumah yang sama, makan lo adalah saudara yang akan gue bela ?

 

Gue gak lahir di Indonesia

Gue tidak mengalami masa balita di Indonesia

 

Konon kata orang cara pikir gue terlalu bule, tindak tanduk gue gak bisa di terima disini karena terlalu jujur .

 

But yet, gue membuat lambang Negara secara besar dipunggung gue sebagai pengingat gue akan tempat yang membuat gue jatuh cinta ini , tempat gue memutuskan untuk hidup .

 

Tempat gue belajar mengenai alam . Belajar agama . Belajar berbudaya .

 

Belajar dari masyarakatnya yang konon ramah, beragama, cantik dan selalu tersenyum , toleransi , dan cerdas .

 

Gue jatuh cinta pada burung gagah yang sekarang ada dipunggung gue ini . Pada lagu lagu semangat yang liriknya membuat gue terbangun dengan api perjuangan setiap hari .

 

“rakyat adil makmur sentosa ……. “

 

Satu hal pertama yang wajib gue hapalin dengan bahasa Indonesai gue yang seadanya saat gue kecil itu adalah PANCASILA .

Wuihhhh … dengan setengah bahasa Jerman, setengah mati gue berusaha fasih mengucap isi Pancasila .

 

Mungkin gue berkhayal , mungkin itu semua bener pernah kejadian dan memang kondisi sekarang berubah .

Entah .

 

Sudah lama gue tidak ketemu yang namanya Makmur . apalagi Sentosa.

 

Entah gimana kabar nya si Adil ,…. Apalagi moral .

 

Mungkin gue salah belajar .

Memang gue bodoh .

 

Gue masih gak ngerti apa haknya orang berteriak mengatai orang lain yang salah karena melanggar hukum, tapi dirinya sendiri masih tidak pernah bisa juga mentaati aturan terkecil dan termudah seperti menggunakan pelindung kepala saat ada di jalanan .

 

Padahal sama-sama tidak mengikuti aturan dan sama-sama membahayakan sesama saudaranya .

 

Mungkin sekarang si moral, si agama, si adil , si makmur sekeluarga semua lagi merapihkan barang barang mereka dan bersiap pergi .

 

Dan kalau semua tetap berjalan demi gengsi, respect yang buram dan semua kata hebat itu ,

 

Gue rasa akhirnya segala sumpah , perjuangan, moral ,agama, adil akan sama sama mengangkat kaki mereka dan mengatakan SELAMAT TINGGAL INDONESIA

 

DAN buat saudara saudara kita yang menanti hukuman mati , well . Gue udah kehilangan hak protes di Negara sendiri, kenapa kalian dieksekusi tiap hari tanpa kita tau .

Kenapa pemerintah kita gak berani menegur pemerintah lain yang mengeksekusi warga Indonesia .

 

Tapi, mungkin itu yang namanya respect ya , Indonesia ?

 

-MELANIE SUBONO -


TAGS


Comment
-

Author

Search

Recent Post