Si Nduk dan Si Bunso

20 May 2015

So. 

Entah karena kebosanan gue yang lagi lagi harus diam beberapa jam duduk dalam pesawat atau hal lainnya, atau sekedar gerah ama sejenis mas mas yg duduk brapa baris di blakang gue yang matanya gak pernah berhenti ngawasin cewek cewek muda yang duduknya bertebaran di pesawat,

Mendadak otak gue jadi agak kreatif. 

 

Bedanya dari biasanya,kali ini daripada ngerjain lagu ato atau lirik kali ini otak gw mendadak kepikiran soal cerita anak anak

 

Tau laaaah. 

Kita dulu punya banyak banget. Ya kan?

Dan sering banget cerita itu berisikan /berceritakan dua karakter . 

Sebut saja Kancil dan Buaya. 

Atau Bawang Merah Bawang Putih. 

 

Or yg lebih internasional. 

Rama dan Sinta

 

Gak cuma kita. 

Bule juga. Hansel and Gretel. Beauty and the Beast. 

 

Pertanyaan gue. Apakah anak anak sekarang masih tau cerita cerita ini? Atau mungkin mereka tau tapi bosen? Ngarepin cerita baru?

Bahkan gue sempet denger seorang anak kecil ngomong bahwa “Ah itu kan ceritanya jadul Ma dari Mama masih kecil. Aku mau yang baru kayak Upin Ipin”

Or anak lain yang lebih suka sama Sapo Djarwo karena bahasanya yang lebih jaman sekarang.

 

So dengan segala alasan itu dan waktu luang gue di pesawat yang masih 2 jam lagi, ijinkan gue mencoba membuat cerita baru untuk anak anak jaman sekarang. 

Dan buat bikin semua orang seneng, gue akan mencoba membuat cerita ini gabungan dari tokoh yang lokal dan tokoh yang internasional. 

 

Happy? Good. 

 

Nah. Cerita ini gue pengen judulin: SI BUNSO DAN SI NDUK

 

Dan inilah cerita mereka. 

 

——————————————————————————————————

 

 

SI BUNSO DAN SI NDUK 

 

Pada suatu tempat dan hari, lahirlah dua anak cantik dari dua ibu yang berbeda, di negara yang berbeda. 

Warna kulit mereka berbeda ,bahasa mereka berbeda, pokoknya semua berbedalah, begitu juga dengan nama panggilan mereka akhirnya saat mereka tumbuh. 

 

Yang satu biasa dipanggil Nduk, yang satu lagu biasa dipanggil Bunso. 

Artinya? Sama. Anak gadis kecil atau anak gadis paling kecil. 

 

Satu lagi kesamaan dari dua bocah ini adalah mereka sama sama lincah dan cantik. Bak anak kecil yang memang bebas dan belum punya beban, mereka sangat cantik dari hati bebas mereka. Mereka sama sama mencintai warna, baju yang cantik dan apapun itu yg disukai anak perempuan pada umumnya. 

 

Namun berbeda dengan bebrapa dari anak lain yang beruntung, mereka berdua hidup dalam kemmiskinan. Bahkan, sangat miskin. 

Yang satu mempunyai orang tua yang harus mengumpulkan plastik sampah di sekeliling rumah mereka untuk dijual kembali, dan yang satu lahir dari keluarga yang tidak pernah berhenti berusaha mencari pekerjaan tapi tampaknya memang tidak pernah berhasil. 

 

Walaupun mama dari si Bunso pernah mencoba nasib untuk bekerja di negara lain di Timur Tengah demi membesarkan anaknya lebih layak , toh sang mama musti pulang dalam hanya 2 bulan setelah nyaris diperkosa di negara orang. 

 

Saat Nduk sholat maupun si Bunso masuk gereja dengan baju mereka yang selalu dipandang dekil oleh anak anak lain, mama mereka selalu mengajartkan untuk mengucapkan doa terima kasih kepadaTuhan. 

“Kita harus bersyukur nak, itu Jalan Tuhan kok,tidak apa… Nanti kita juga akan punya baju bagus kalau Tuhan kasih. Sabar ya anak cantik”

 

Begitupun saat malam tiba, saat mereka  harus tidur berbagi kamar hanya sebesar 3×3 dngan 9-10 anggota keluarga bersamaan, mereka tidak mengeluh. 

 

Karena ayah mereka akan mendatangi mereka dan berkata :

“Bersyukur nak, kita masih dekat sama saudara saudara kita kayak begini. Suatu hari kamu pasti akan punya kamar sendiri yang lebih besar dan cantik. Maafin ayah ya nak belum bisa kasih kamu seperti anak anak lain”

 

 

Dan saat anak anak itu tertidur, para orang tua yang harus berbagi ruang dengan para ternak dan peralatan dapur seadanya, pasti mengucapkan doa dengan cara mereka yang berbeda tapi punya satu keyakinan. 

Bahwa masing-masing anak perempuan mereka akan berhasil dan bernasib jauh lebih baik dari mereka. 

 

Entah percaya entah pasrah, mereka selalu mengakhiri doa mereka dengan satu kata keyakinan :AMIN. 

 

Tumbuh menjadi balita menuju ABG, kedua gadis ini sudah mulai menunjukkan minat, hobi maupun cara bergaulnya sendiri. 

 

Walaupun tetap hidup dalam kemiskinan parah, BUNSO tumbuh jadi anak yang sangat ceria dan suka sekali bercanda. 

Saat orang menanyakan cita citanya, walaupun dalam hatinya dia ingin menjadi perawat seperti banyak anggota keluarga lainnya, tapi dia selalu tertawa dan lebih suka menjawab :

 

“Kepingin jadi es krim!!!!”

Hahahaha…. 

 

Si NDUK menjadi anak yang lebih pemalu. 

Dia menyukai pakaian cantik seperti anak anak lain, dan saat ditanya apa cita-cita nya, dia akan menerawang jauh dan menjawab “Nduk pengen keliling dunia bu. Pengen beliin barang bagus untuk ayah dan ibu”

 

Sederhana. 

Sesederhana tawa,sesederhana cinta. 

 

Dan suatu hari, si putri cantik ini ,BUNSO , pun jatuh cinta. 

Pada seorang pria sederhana yang tinggal gak jauh dari rumahnya. 

Dan atas nama cinta, Bunso mendatangi papa mamanya dengan satu kalimat pendek: 

 

“Aku mau menikah”

 

Dan suka tidak suka, orang tua merestui pencatatan nikah anak paling kecilnya ini yang saat itu baru berusia 16 tahun. 

Pernikahan yang diharapkan orangtua Bunso bisa merubah minimal nasib satu anak cantiknya ini. 

 

Pernikahan yang menghasilkan dua anak yang ganteng. 

 

Pernikahan yang harus dibatalkan beberapa saat kemudian saat si cantik Bunso kembali berlari ke pelukan papa mamanya dengan kalimat yang ditakuti oleh semua orang tua :

 

“Aku disiksa , aku dipukuli, aku mau cerai “

 

——————————————————————————————————–

——————————————————————————————————–

 

 

Gak jauh beda dari Bunso, layaknya seorang perempuan ,NDUK juga mulai kenal kata suka, lirik lirikan, dan akhirnya pun menikah dengan seorang pria pilihannya untuk beberapa saat dan harus memberi berita buruk pada orang tuanya tidak lama setelah itu dan berakhir pada perpisahan. 

Entah 

Memang begitulah jalannya. 

 

Jadilah si NDUK kembali terlantar bersama seorang anak gadis yang sudah dilahirkannya. 

 

Dan sama dengan BUNSO dan kedua anak cowoknya., sama dengan semua manusia lain di dunia ini, Mereka harus makan dan bertahan hidup. 

 

Dan saat itu baik NDUK maupun BUNSO bukan lah lagi anak kecil ceria yang tanpa beban. Mereka sudah dipaksa oleh keadaan menjadi dewasa. Untuk bisa hidup. 

 

Untuk bisa memberi makan anak anak mereka di saat pekerjaan sangat sulit didapat. 

Di saat tidak ada orang mau menerima pekerja dengan kemampuan atau tingkat pendidikan seadanya. 

Di saat dunia terlihat sangat buruk dan jelek dan Tuhan itu tidak adil. 

 

Dan di saat satu satunya hal yang belum dilakukan hanyalah menjual diri atau hal haram lainnya, Di saat  itulah , NDUK dan BUNSO didatangi oleh orang yang saat itu akhirnya menjadi malaikat penolong mereka. 

 

Entah dari mana mereka muncul , tapi dua orang ini muncul di saat yang tepat bagi dua gadis yang nyaris putus asa ini. 

 

——————————————————————————————————–

——————————————————————————————————–

 

 

Hari kembali menjadi terang ketika si NDUK berkenalan dengan seorang wanita di Masjid, begitu juga saat si BUNSO didatangi seorang wanita yang membawa satu kalimat , satu harapan terakhir yang sudah mereka tunggu sejak lama : 

 

“Yuk. Ikut saya. Kamu bisa kerja. Bergaji bagus. Anak anakmu bisa sekolah. Kamu bisa bayar hutang. Kamu bisa bawa orang tua kamu keluar dari kamar 3×3 mu ini”

 

Dan tanpa banyak pikir, segala persiapan dilakukan dan kemudian berangkatlah mereka. 

Menuju sebuah negara tujuan yang indah. 

Dengan sedikit bekal si tangan yang diberikan di awal, dan mimpi akan jumlah yang akan diberikan di tempat tujuan nanti. 

 

Bahkan mereka akan naikpesawat. 

Yes. Pesawat!! 

Dengan baju baru. Harapan baru. Mimpi baru. 

 

Untuk hidup yang lebih baik. Anak. Orang tua. 

 

Demi keluarga yang mengantarkan mereka berangkat kerja dengan mata yang penuh harapan. Akhirnya. 

Dua anak perempuan mereka …. Akan hidup dalam keadaan jauh lebih baik. 

 

Kini, NDUK dan BUNSO, bisa tersenyum lebar. 

 

——————————————————————————————————–

——————————————————————————————————–

 

Tibanya di tempat tujuan, semua berjalan dengan baik. 

 

Pekerjaan memang agak melelahkan, tapi tidak mereka pikirkan. 

Di negara orang ini, yang mereka pikirkan hanyalah uang yang akan mereka kirim kembali ke rumah mereka. Ke orang tua mereka. Dan saat anak anak mereka bisa bersekolah. 

 

Walaupun saat ini si NDUK udah nikah lagi , tapi pengalaman pernikahan pertama mengajarkan bahwa sebagai wanita dia tidak bisa hanya menggantungkan diri pada pria. 

 

Sementara buat si BUNSO, lelaki yang ada dalam hidupnya hanyalah dua anak gantengnya yang ia tinggal beribu-ribu kilometer jauhnya. 

 

Satu hal sama yang mereka tahu adalah, one day mereka akan berhasil, pulang, dan membuat bangga orang tuanya.

 

——————————————————————————————————–

——————————————————————————————————–

 

Walaupun pekerjaan mereka lebih sering mereka sebut kayak setrikaan ,mondar mandir ngambil nganter barang sesuai perintah bos, itu gak masalah. 

 

Apalagi buat si NDUK yang berangkat dari kampug dengan kepolosan, mendadak bisa melihat lebih dari dua benua dalam hitungan bulanan. 

 

Ibarat layanan pesan ambil antar barang yang lagi trend sekarang ini di jakarta, itulah yang mereka lakukan. 

 

Rasa lelah pun tidak pernah mereka ucapkan mengingat tahun tahun dimana mereka tidak berhasil mencari pekerjaan sama sekali. 

 

Indah. Bos tidak rewel. 

Selama yang ditugaskan selesai, semua aman. 

 

Yang penting tahu harus kemana. Antar kemana. Ambil dimana. Ketemu siapa. 

Samalah seperti kita meminta OB kantor kita untuk membeli atau mengantar mengambil ini itu. Atau asisten kita mewakili saat kita berhalangan sementara apa yang akan disampaikan harus disampaikan secara langsung. 

 

Dengan bahasa seadanya, mereka bisa mengerti perintah “ketemu si A”. Anter ke si B. Ambil barang di si C. 

 

Dan lagi. Dan lagi. 

 

Dan mereka kembali tertawa. 

 

——————————————————————————————————–

——————————————————————————————————–

 

 

Waktu berlalu, hutang mereka di kampung pun mulai berkurang sedikit demi sedikit berkat kiriman gaji yang tidak seberapa tapi ada. 

Walaupun harus jauh dari rumah selama bertahun tahun ,tapi dua wanita “tulang punggung” ini bisa bangga. 

 

Sampai suatu hari, dunia mereka kembali runtuh. 

Hancur. 

 

Lebih hancur dari yang pernah mereka rasakan sebelumnya. 

 

Saat mereka memulai hari seperti mereka memulai hari hari sebelum nya dan kemudian secara mendadak dihentikan oleh orang berbahasa yang mereka tidak paham, disuruh ikut, barang titipan bos mereka disita, merekapun diintimidasi dan dibawa ke ruangan yang lebih kecil daripada rumah mereka di kampung, mereka tahu sesuatu yang sangat salah sedang terjadi. 

 

Dan saat bos mereka mendadak tidak satupun bisa dihubungi sama sekali, dan saat orang bicara dalam bahasa asing berteriak teriak menunjuk nunjuk paket yang selama ini memang jadi tanggung jawab mereka, 

 

Perlahan lahan semua menjadi jelas. 

 

Bahwa orang yang berteriak-teriak ini adalah polisi. 

Bahwa benda benda yang harus mereka antar jemputkan tiap kali tanpa boleh mereka lihat isinya adalah narkoba. 

 

Dan bahwa selama ini mereka bukan bekerja seperti layanan antar jemput barang yang memang lagi trend selama ini. 

 

Tapi mereka hanyalah anak polos yang digunakan untuk menjadi seorang kurir narkoba alias Mule. 

Di negara yang jauh dari rumah. Tanpa bisa mengabari. Tanpa tahu apa yang terjadi. 

 

Hanya satu hal yang pasti di hari itu terjadi pada Si Nduk dan si Bunso. 

Bahwa majikan mereka?

Tidak akan pernah bisa mereka hubungi. 

 

——————————————————————————————————–

——————————————————————————————————–

 

Hari demi hari. Menjadi bulan. Menjadi tahun. 

Mereka jalani 

 

Si Nduk dan si Bunso kembali tinggal di sebuah kotak kecil. Dan kali ini tidak lagi ber5 atau 10. Tapi kadang 30 atau 50 orang. 

 

Orang orang berbahasa asing yang mereka tidak paham. 

Tanpa bisa melihat wajah orang yamg mereka sayang. 

 

Tahukah keluarga di kampung bahwa mereka di penjara?

 

Mungkin di saat ini keadaan Bunso jauh lebih baik karena pada hari ke-5 dia berhasil menghubungi keluarganya. 

Dan keluarganya kemudian mencari segala cara demi mendapatkan keadilan. Baik secara pribadi maupun kenegaraan. 

Negara yang masih punya sedikit kepeduliam pada warganya. 

Dan majikan yang sempat muncul satu kali untuk berkata “Kamu diam diam saja ya. Nanti 5 bulan lagi juga kamu bebas kok”

 

 

Berbeda dengan si Nduk. 

Tanpa negara yang peduli, majikan dan agen yang mendadak hilang bak sulap, dia masih harus memerima kennyataan berita bahwa suami kedua tercintanya memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya sendiri dan tidak mau mengurus kedua anak tercinta mereka. 

 

Entah dimana anak anak itu harus dititip. 

 

Keadaan, hari, pengadilan demi pengadilan pun berjalan nyaris tanpa didampingi orang yang mereka sayang , sampai suatu hari tibalah hari nasib mereka diputuskan. 

 

“Nduk, cerita kamu tidak terbukti. Maaf tapi kamu gak akan pernah bisa keluar lagi dari ruangan sempit ini, sampai seumur hidup kamu”

 

Dan “Bunsi, kamu bersalah. Kamu jelas membawa barang terlarang. Kita akan memberi tahu kamu lagi kapan jadwalmu untuk ditembak mati “

 

Dan hancurlah jiwa dua bocah yang pernah polos ini. 

Yang hanya ingin pergi membeli baju yang bagus. 

Atau menyekolahkan anak. 

 

Supaya emak dan bapak bisa tidur di kasur. Bukan lagi di lantai. 

 

Itulah mimpi si NDUK dan si BUNSO. 

 

Yang kini telah berganti nama. 

 

Menjadi Kurir Narkoba Internasional. Dalam berbagai bahasa 

Bahasa yang mereka saja tidak mengerti. 

 

 

——————————————————————————————————–

——————————————————————————————————–

 

TENTANG BUNSO. ……

 

Kalender kembali disobek 

Bukan berganti hari atau bulan. 

 

Tapi satu lagi tahun sudah lewat. 

 

Hari yang paling emosional untuk Bunso. 

Karena hari ini ayah. Ibu. Anak anak gantengnya. Kakaknya. Bahkan sang mantan suami akan datang kesini. Mengunjungi. 

Si BUNSO harus tampil cantik 

Karena mereka semua akan datang. 

Karena dia bisa memeluk mereka semua. 

Karena…. Setelah melalui semua perjuangan hukum apapun itu, majikannya tidak pernah ditemukan lagi

 

Karena, dia hanya punya 23 jam dan 59 menit terakhir di hidup nya. 

 

Katanya pada ibunya “Mama, nanti malam saya ditembak “. 

 

Dan katanya pada anaknya sebelum digiring berdiri di jejeran giliran tembak, “Nak, kalau mama gak pulang lagi, mama lagi sama Tuhan ya”

 

Dan malam itu, di ruang tunggu bersama keluarga lainnya, sang kakak perempuan dari si BUNSO pun mendengar tembakan. 

Tembakan yang mengantar mereka pada doa pengantar nyawa adiknya yang ditembak hanya beberapa puluh meter dari mereka. 

 

Si kecil yang bercita cita ingin menjadi eskrim ini sudah tidak ada. 

Semua bentuk permohonan hilang. 

 

Tidak ada lagi adik kecil yang bisa mereka ganggu.

Atau ibu yang bisa mereka tunggu. 

Atau anak yang bisa mereka banggakan. 

 

Dunia gelap. 

Ambulans dan sirene polisi berbunyi diluar setelah bunyi tembakan selesai. 

 

Dan kemudian pintu terbuka dan seorang petugas keluar berbisik pada kakak si Bunso dan berkata 

 

“Adikmu selamat. Dia hidup. Tidak jadi ditembak. **sang majikan** sudah tertangkap”

 

Tuhan itu Adil. 

 

 

——————————————————————————————————–

——————————————————————————————————–

 

TENTANG SI NDUK. 

 

Duduk di ruang sempit

Jauh dari rumah. 

Anak yang jauh dan tidak terurus

Keluarga yang tidak mampu datang menjenguk 

 

Majikan yang dilindungi oleh pemerimtah dan tidak akan pernah ditangkap. 

 

Dan si Nduk? Hanya satu dari beberapa ratus kawan yang juga sedang duduk menatapi tembok batu. 

Mencoba membiasakan diri. 

Toh mereka gak akan pernah keluar bersama matahari lagi. 

 

Mungkin nasib ya lebih baik dari si Bunso karena di penjara ini mereka tidak menghukum mati orang, atau mungkin dia berharap untuk lebih baik ditembak saja daripada tumbuh sampai mati ditempat ini. 

 

Konon katanya ada teman teman dari satu negara asal si Nduk disini. Bahkaj ada pihak berwenang disini. Tapi entah kenapa , si Nduk belum dijenguk. 

Apalagi dibela. 

 

Si Nduk terima. Ya. 

Saya akan mati di sini nanti kalau sudah tua. 

 

——————————————————————————————————–

——————————————————————————————————–

 

 

Mungkin ini lah gambaran cerita anak hari ini 

Mungkin ini alasan cerita tidak lagi berdasarkan kenyataan 

 

Tapi inilah cerita nyata. 

 

Salam di hari kebangkitan Nasional ,

 

Dari seorang DWI WULANDARI di penjara MANILA , dan keluarga MARY JANE di suatu ruang di Nusa Kambangan (sekarang sudah kembali ke Jogjakarta)

 

 

- MELANIE SUBONO …. MANILA…. 14 Mei 2015 -


TAGS


Comment
-

Author

Search

Recent Post