KEADILAN YANG AMIS

5 Sep 2015

Adalah seorang wanita bernama Satinah . 
Cantik, cerdas , ramah , dan mempunyai mimpi . 
 
Semua yang indah yang akhirnya harus kalah karena satu alasan klasik, kemiskinan . 
 
Kemiskinan yang akhirnya harus membawa dia melanglang ke negara orang , tanpa bekal yang cukup , tanpa cukup tangan yang menjaga , tanpa kepedulian sama sekali dari orang yang mengirim Satinah ke negara tujuannya. 
 
 
Dan bak cerita klasik lainnya, Satinah harus berakhir dengan berurusan dengan pihak berwajib . 
 
 
Dan seperti cerita dengan plot cerita yang buruk , endingnya buruk bagi pemain utama . 
 
 
Kasus yang dihadapi nya harus dihadapi sendiri , tanpa bantuan pemerintah di awalnya , hanya didampingi oleh pihak yang menanggapi teriakan Satinah, yaitu Migrant Care , sejak 2009 . 
 
 
Tuntutan korban yang terus membengkak karena didiami oleh pemerintah yang belum menganggap issue ini penting, akhirnya menggerakkan banyak pihak di 2013-2014 untuk berteriak .
 
 
berteriak untuk keadilan, berteriak untuk MINIMAL perhatian dan PERLINDUNGAN seperti layaknya dan harusnya seluruh umat manusia dapatkan secara adil. 
 
 
Hinaan dan celaan didapat, terutama paling umum adalah pertanyaan untuk apa kita membela seorang pembunuh, apalagi mengumpulkan uang untuk membebaskan . 
 
 
Well
untuk ke seribu kalinya lagi saya akan mengulangi pernyataaan bahwa saya TIDAK PERNAH berusaha membuat orang yang bersalah lari dari hukuman, tapi yang saya perjuangakan agar SETIAP MANUSIA siapapun itu mendapatkan KEADILAN yang ADIL …
 
 
dan apakah yang adil dari pengadilan di negara orang , tanpa penerjemah dan pendampingan hukum yang layak , dan negara yang baru ikutan bertindak setelah setengah negara berteriak ? 
 
 
Satu pelajaran dari kasus ini adalah bahwa suara rakyat masih kuat, terbukti dari keadilan yang akhirnya tiba , nyaris ratusan juta terkumpul dari uang uang rakyat yang tidak besar perorangan , dan teriakkan dan gerakan yang semakin membesar . 
 
 
Dan lalu disaat gue berusaha memberikan pengertian akan empati , bahwa tidak ada orang menabung dan bekerja saedemikian keras hanya untuk dihukum mati sampai apakah yang kita akan lakukan andaikan itu adalah keluarga kita sendiri , maka muncul lah pertanyaan pertanyaan lain seperti “ Ah dulu uang dikumpulin lalu dikasih ke keluarga buruhnya abis itu dia malah jadi sombong” , sampai sanggahan sanggahan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang yang sudah mulai panik akan tudingan rakyat . 
 
 
Sahabat, 
tidak ada cara lebih baik untuk menunjukkan niat dan tujuan daripada PEMBUKTIAN .
 
satu tahun berlalu , gue memutuskan untuk berjuang dengan diam dan tanpa suara . 
 
Walaupun berkali kali telinga gue panas dengan tudingan “ Tuh kan skarang aja dia diem , pasti makan duit, manaaaa buruh nya juga gak berhasil pulang kan ..cuma nyari popularitas aja “ 
 
tapi gue menguatkan diri untuk menahan mulut dan emosi dan meletakkan kepercayaan pada TUhan , usaha dan sahabat sahabat mentor saya di Migrant Care , tutup kuping, dan berjuang .
 
Dimulai dari mengirimkan email dan cerita  pda mereka yang sudah membantu tentang perkembangan ibu Satinah berkali kali, sampai menyalurkan gerakan bernama Rumah Harapan menggunakan dana yang telah dipercayakan , dan gue terima dengan janji “tidak akan saya berikan kepada keluarga tapi akan diberikan untuk sesuatu yang bermanfaat “
 
 
Minggu lalu kita digembirakan oleh kasus Wilfrida Soik yang bebas dari tuntutan bandingnya . Perjuangan panjang oleh Migrant Care 
( wlaupun di claim bebas total oleh orang yang ikutan di beberapa bulan akhir, tapi tidak apa , tetap berita gembira ) 
 
Dan hari ini , Kamis 3 September 2015 , KALIAN yang support, BUKAN SAYA MELANIE SUBONO ,tapi KALIAN sudah memiliki 5 “sekolah “di papua, perpustakaan jalanan dari ujung ke ujung aceh sampai papua, lahan sawi di bekas bencana Sinabung, puluhan orang sakit diobati dan entah kasus apalagi  
 
( silahkan buka : fb.com/RHMelanie
 
Hari ini ,harusnya kepercayaan kalian semua sudah bangkit bahw dengan 5000rb rupiah kalian bisa berbuat besar . Tidak perlu gerakan milyaran perorang atau sorotan besar media atau apalah itu namanya . 
 
Dan hari ini , 3 SEPTEMBER 2015 gue bangun tidur dengan kalimat indah yang dikirimkan Migrant Care ke hp gue .
 
Kalimat yang mengantarkan gue pada sujud ke Tuhan dan kepercayaan pada kalian semua. Sahabat, malaikat Brengsek, pejuang yang akan selalu melawan sampai mati . 
 
Walaupun selalu harus berbau darah terlebih dahulu baru pemerintah bergerak, bak hewan yang lebih suka mencium bau amis untuk bisa merasakan emosi , tapi kalimat ini membuktikan tidak ada yang sia sia dalam perjuangan . 
 
 
“ Mel, hari ini SATINAH PULANG KE TANAH AIR “
 
 
 
Love
 
 
melanie subono

 


TAGS buruh migran #HidupRakyat


-

Author

Search

Recent Post